Tuesday, September 25, 2012

5 penyebab komputer lambat

5 penyebab komputer lambat

Komputer kamu lambat ? ketahui 5 penyebab utama komputer lambat agar segera mengambil tindakan perbaikan untuk mengembalikan kecepatan akses bagi komputer anda. Ada banyak penyebab yang membuat kinerja komputer menjadi lambat, namun dari sekian banyak penyebab itu saya menyimpulkan hanya 5 penyebab utama komputer menjadi lambat. Berikut adalah kelima penyebab komputer lambat.
1. Kerusakan Hardware

Kerusakan hardware (perangkat keras) yang membuat komputer menjadi lambat adalah kerusakan pada motherboard dan harddisk. Kerusakan pada motherboard dan harddisk ini disebabkan karena sebagain komponen motherboard ataupun hard disk tidak berfungsi dengan baik untuk melakukan baca tulis dan kirim data informasi. Pada hard disk, kerusakan ini disebutkan dengan bad sector. Kalau hard disk sudah bad sector, maka sudah dapat dipastikan komputer akan melambat, bahkan sangat lambat.

Cara terbaik mengatasinya hanya dengan mengganti hard disk lama dengan hard disk baru. Akan tetapi apabila masih ingin mempertahankan harddisk yang ada, silahkan gunakan software yang mampu menutup bad sector agar komputer anda bisa kembali lebih cepat. Untuk bad sector yang masih awal biasanya dapat diperbaiki dengan cara partisi dan format ulang hard disk.

2. Hard Disk Full (Low Space)

Ruang penyimpanan pada harddisk sangat berpengaruh terhadap kecepatan akses komputer. Apabila ruang hard disk semakin sempit (low space) maka dapat dipastikan komputer akan melambat. Hal ini terjadi karena komputer kesulitan menempatkan data dan informasi karena ruang kosong yang tersedia sangat terbatas.

Cara mengatasinya, Silahkan backup data-data berupa gambar, video dan musik pada media penyimpanan lainnya seperti, CD, DVD, Flash Disk atau harddisk lainnya.

3. Serangan Virus

Virus adalah program yang bekerja di belakang layar tanpa diketahui oleh pengguna komputer itu sendiri. Virus bisa diketahui dengan menggunakan anti virus untuk mendeteksi dan membersihkannya. Virus dikirim untuk mengganggu kerja komputer, mencuri data dan informasi yang ada di komputer target.

Cara Mengatasinya, Gunakan  anti virus yang berbayar, jangan menggunakan anti virus gratis, oleh karena anti virus gratis tidak melindungi komputer secara utuh, bahkan justru sengaja membiarkan beberapa virus (virus pengganggu) masuk untuk mengganggu kinerja komputer, sehingga pengguna komputer segera membayar anti virusnya.

Penggunaan anti virus juga jangan berlebihan. Penggunaan anti virus yang berlebihan ini biasanya dilakukan oleh pengguna komputer yang menggunakan anti virus gratis. Jadi satu unit komputer diinstall 2 anti virus, ini adalah tindakan yang dapat memperlambat kerja komputer. Memasang 2 anti virus sama saja dengan menghadap 2 orang satpam di satu pintu gerbang.

4. Terlalu Banyak Program Terinstall

Salah satu penyebab komputer lambat adalah terlalu banyak diinstallnya program. Terlalu banyak program terinstall menyebabkan semakin benyak pula service yang dijalankan pada saat startup windows.

Cara Mengatasinya, uninstall program yang jarang digunakan atau bahkan tidak pernah digunakan. Matikan beberapa service yang dirasa mencurigakan, dengan cara ketik msconfig pada run kemudian hilangkan tanda centang pada service yang dicurigai.

5. Banyaknya File Sementara (temporary)

Pengguna internet pasti sering mengalami maslah ini, komputer akan semakin melambat kalau program temporary tidak pernah dibersihkan. Program temporary ini terbentuk ketika kita membuka website, blog melalui browser. File-file yang sifatnya sementara akan disimpan di dalam harddisk untuk mempercepat proses loading tampilan halaman browser.

Cara Membersihkan file temporary.
Untuk Windows 7 dan Windows Vista
  • Klik tombol Start
  • klik Control Panel
  • Klik Network and Internet
  • Pada Internet Options, klik Delete browsing history and cookies
  • Pada tab General, Klik Delete di bawah Browsing history
  • Centang pada Preserve Favorites website data, Temporary Internet Files, Cookies, History, Form Data, Passwords, InPrivate Filtering Data.
  • Klik Delete

Untuk Windows XP
  • Klick Start
  • Klick Control Panel kemudian double click Internet Options.
  • Klick General tab
  • Klick Delete Files di bawah Temporary Internet Files.
  • Pada kotak dialog Delete Files, pilih Delete all offline content
  • Klik OK.
Itulah 5 penyebab utama komputer lambat, sekarang anda sudah tahu penyebab komputer anda menjadi lambat, langkah selanjutnya silahkan lakukan tindakan penyelesaian di atas secara berkala agar komputer anda tetap cepat bila digunakan. Selamat mencoba.
Baca selengkapnya

Friday, September 21, 2012

belajar

belajar

5 Kunci agar Kamu Sukses Belajar

Mulailah dari menjawab sebuah pertanyaan : Apakah kamu ingin sukses belajar di sekolah ? Pasti semuanya mau, dong. Kecuali, bila kamu mau dibilang “aneh” oleh teman-temanmu sesama pelajar. Mengapa ? Ya iyalah, kamu adalah pelajar. Tugas utamanya adalah belajar. Bukan yang lain-lain !
Masa iya, pelajar tugasnya malah “kurang ajar”. Tentu, kamu tidak begitu, bukan ? Apa kata guru kamu nanti. Kamu tidak mau bukan menjadi seorang pelajar yang hanya membuat guru-guru kamu tidak nyaman berada di ruang kelas ? Hayo… siapa yang suka “diomeli” oleh gurunya sendiri ? Ngacung !
1299643280470475719 Jika kamu tidak mau, syaratnya cuma satu. Kamu perlu menjadi pelajar yang sukses dalam belajar. Mau lebih tahu, bagaimana caranya ? Ini kuncinya !
Pertama, milikilah tekad untuk sukses belajar. Jika kamu telah memiliki kemauan atau keinginan untuk sukses belajar, maka tingkatkan lagi untuk menjadi sebuah tekad sukses belajar. Apa bedanya ? Keinginan, hampir pasti dimiliki oleh setiap orang. Namun, itu masih bersifat pasif. Semua orang pasti bisa dengan mudah untuk sekadar mengatakan melalui bibirnya, “Aku ingin…”.
Sementara tekad adalah keinginan yang kuat dan bulat, bagaimana caranya agar keinginan itu dapat dicapai. Tekad adalah keinginan seseorang yang membuatnya bersedia untuk aktif dan pro aktif untuk meraih apa yang diinginkan. Tekad adalah keinginan seseorang yang disertai dengan kesediaan untuk memenuhi segala persyaratan agar keinginan itu dapat tercapai. Bahkan, bila perlu, tekad membuat seseorang bersedia untuk mengorbankan keinginan yang lainnya demi sebuah keberhasilan. Tekad adalah keinginan yang sungguh-sungguh untuk diraih dan diwujudkan oleh seseorang.
“Tekad, adalah yang membedakan keinginan seseorang, apakah keinginan tersebut merupakan sebuah kesungguhan atau hanya sekadar lamunan…”
Kedua, yakinlah, bahwa setiap pelajar dapat meraih sukses belajar. Banyak hal ketidaksuksesan yang diterima oleh seseorang, pertama-tama lebih disebabkan oleh karena dirinya tidak yakin dapat meraih kesuksesan itu sendiri. Ini berlaku pula buat kamu, sebagai pelajar. Ketidakyakinan bisa bermula dari anggapan bahwa dirinya bukanlah tipe pelajar yang pintar. Namun, simaklah baik-baik :
“Tidak ada pelajar yang bodoh, kecuali hanya ada pelajar yang malas dalam belajar !”
“Bukan tipe pelajar pintar” hanyalah merupakan satu dari sekian banyak alasan yang menghalangi seorang pelajar dapat meraih kesuksesan belajar. Masih banyak alasan yang lainnya. Antara lain, alasan kondisi keluarga yang tidak mendukung, lah…, alasan gurunya yang katanya kurang enak dalam mengajar sih… alasan keadaan sekolah yang kurang kondusif, kek…., hingga alasan lain yang dapat kamu temukan setelah dicari-cari. Sejumlah daftar alasan itu kian bertambah panjang, betul ?. Perhatikan kata-kata berikut ini :
“Orang yang gagal selalu sibuk dengan beragam alasan, sementara orang yang berhasil akan lebih fokus pada upaya mencari cara agar tekadnya dapat tercapai…”.
Ketiga, kelola diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Pengelola (manajer) terbaik bagi hidup kamu, adalah diri kamu sendiri. Siapakah manajer terjelek dalam hidup kamu ? Pastinya, adalah diri kamu juga ! Jika kamu tidak dapat mengelola diri sendiri dengan baik, atau bahkan hidup kamu tidak terkelola sama sekali. Orang sunda bilang, “hirup teu puguh…”.
Maka, jadilah pengelola terbaik atas diri sendiri, agar dapat meraih apa yang kamu inginkan secara sungguh-sungguh. Mengapa, harus orang lain atau teman yang mengelola dan mengatur hidup kamu ? Aneh, bukan ? Aturlah diri sendiri, kelola waktu, kapan harus belajar, kapan boleh bermain, atau kapan sekadar cuma bersenang-senang. Mana yang harus lebih dahulukan, mana yang bisa ditunda, atau mana yang dapat dikesampingkan terlebih dahulu. Mana yang harus diberikan porsi yang lebih, mana yang porsinya biasa saja. Jangan berlaku sebaliknya !
“Betapa banyak, seseorang yang ingin meraih keberhasilan, namun ia justru memilih cara-cara yang telah terbukti hanya akan membawanya pada kegagalan….”.
Keempat, bacalah buku pelajaran. Pahami, dan catatlah hal-hal yang kurang dimengerti. Lalu, berlatihlah mengerjakan tugas atau soal-soal latihan. Kamu hanya perlu berlaku jujur pada diri kamu sendiri. Jadilah penilai atas diri sendiri saat kamu mengerjakan tugas atau soal-soal latihan. Seberapa jauhkah, kamu menguasai materi pelajaran yang telah kamu baca ?
Kamu harus mampu mengerjakan latihan soal dengan benar, minimal 65 % dari jumlah soal, tanpa kamu melihat kembali materi yang telah dibaca. Jika masih banyak soal yang belum mampu dikerjakan dengan benar, maka ulangi lagi kamu membaca, dan kerjakan lagi soal-soalnya, hingga kamu mencapai sekurangnya angka 90 % soal dapat dijawab dengan benar.
Tentu ada masalah yang akan kamu hadapi selama belajar. Atasi masalah itu dengan sebaik-baiknya. Bila perlu, pelajari kembali materi pelajaran sebelumnya yang dianggap belum kamu kuasai. Karena, hal itu akan selalu menghambatmu dalam belajar. Kamu, hanya perlu tambahan waktu untuk belajar. Hal-hal lain yang belum kamu kuasai, dapat pula ditanyakan pada guru saat mengajar di kelas. Biasakan kamu bertanya kepada guru atas materi yang belum kamu kuasai.
“Tidak ada kesuksesan belajar, tanpa kamu suka membaca dan berlatih. Atasi kesulitan belajar kamu sendiri. Lalu, biasakanlah bertanya. Kebiasaan bertanya adalah bagian dari kesuksesan dalam belajar !”
Kelima, kuasai materi pelajaran jauh lebih awal. Apa maksudnya ? Usahakan, kamu telah membaca dan berlatih tentang suatu materi pelajaran, jauh-jauh hari sebelum materi pelajaran tersebut diajarkan oleh guru di kelas. Bila perlu, kamu telah menguasai materi pelajaran pada seminggu sebelum diajarkan (H-7 atau Minggu/M-1), atau satu bulan sebelum materi diajarkan (Bulan/B-1). Hindarkan kebiasaan buruk, belajar saat semalam hendak ada ulangan keesokan harinya. Jauhi kebiasaan belajar di kelas, dengan tanpa persiapan, tanpa sedikitpun memori materi pelajaran yang akan dipelajari.
Lebih baik lagi, bila kamu pun berusaha menguasai lebih banyak lagi materi pelajaran. Caranya ? Kamu pelajari lagi dengan membandingkan buku-buku lain selain buku paket yang telah disediakan. Kamu perlu mengerjakan soal latihan yang lebih banyak lagi, dari buku-buku yang lain, soal-soal yang lain dan seterusnya. Bukankah, keberhasilan seorang juara terlebih dahulu harus ditempuh melalui porsi latihan yang lebih berat dan lebih banyak lagi ? .
“Tidak ada sesuatu kesuksesan yang mustahil untuk diraih, kecuali kamu hanya perlu mengatur waktu dan berusaha keras untuk meraihnya….”
Yakinlah, jika orang lain bisa, kenapa kamu tidak ? Selanjutnya, cobalah kamu untuk memulainya….. ***

 

Baca selengkapnya

Thursday, September 20, 2012

Mengatasi Rasa Rendah Diri

Mengatasi Rasa Rendah Diri



Perasaan rendah diri bisa membunuh kita. Tentunya bukan dalam pengertian membunuh secara fisik, melainkan membunuh karakter pribadi. Membunuh motivasi Orang yang rendah diri cederung menarik diri dari lingkungan. Kalaupun berbaur dengan orang lain, dia memposisikan dirinya di pojok ruangan yang nyaris tidak kelihatan. Orang-orang rendah diri tidak berani untuk menunjukkan ‘siapa dirinya’ dan ‘apa yang bisa dilakukannya’ lebih baik dari orang lain. Bukankah ini seperti sebuah kematian? Ya, kematian nilai diri seseorang.
Sifat rendah diri itu seperti keran air yang karatan. Dia sangat sulit untuk dibuka, sehingga air tidak bisa mengalir dengan lancar. Ada begitu banyak persediaan air dalam bak penampungan diatas atap, tetapi tidak bisa keluar karena alirannya terhalang oleh keran yang tersumbat. Ada begitu banyak persediaan potensi diri yang kita miliki, namun terkunci oleh perasaan rendah diri yang menghambat.
Bagi Anda yang tertarik untuk belajar mengatasi rasa rendah diri, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Menghargai diri sendiri.
Penyebab utama perasaan rendah diri bukanlah cara orang lain memperlakukan kita, melainkan bagaimana cara kita memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Jika Anda sendiri menghargai diri sendiri dengan baik, orang lain tidak akan berhasil menjatuhkan mental Anda; sekalipun mereka berusaha untuk merendahkan Anda. Namun sebaik apapun orang lain memperlakukan Anda, jika Anda sendiri memandang rendah kepada diri sendiri maka Anda tetap akan menjadi pribadi yang rendah diri. Untuk bisa mengatasi rasa rendah diri kita harus mulai dengan cara menghargai diri sendiri dengan sepantasnya terlebih dahulu.
2. Mengambil kendali atas hidup Anda.
Mari perhatikan lagi orang-orang disekitar kita. Ada orang-orang yang wajahnya tidak secantik atau setampan kita. Pendidikannya tidak setinggi kita. Penampilannya tidak sebonafid kita. Tetapi mereka begitu percaya diri. Mereka tidak menghiraukan cibiran orang lain. Mereka tidak memperdulikan pandangan yang meremehkan. Walhasil, mereka dapat berkarya semaksimal mungkin, lalu menghasilkan pencapaian yang tinggi. Apakah Anda bisa menemukan orang yang seperti itu? Mereka telah membuktikan bahwa kemudi hidup berada dalam kendalinya, bukan ditentukan oleh penilaian orang lain atas dirinya. Dengan mengambil kendali hidup, mereka berkonsentrasi kepada usaha-usahanya. Meski pada awalnya berat, namun di garis akhir mereka mendapatkan penghargaan yang tinggi. Bahkan dari orang-orang yang sebelumnya menyepelekan.
3. Mengimbangi kekurangan dengan kelebihan diri.
Keliru jika kita mengira orang lain lebih beruntung dari diri kita. Faktanya, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Orang-orang yang rendah diri adalah mereka yang terkurung dalam zona kekurangan dirinya sambil membiarkan potensi dirinya tersia-siakan. Sebaliknya, orang-orang yang berhasil bukanlah mereka yang tidak memiliki kekurangan, melainkan yang senantiasa berfokus pada usaha untuk mengoptimalkan kelebihan yang dimilikinya. Mereka menyadari kekurangan dirinya, namun mengimbangi kekurangan itu dengan kelebihan dirinya.
4. Mengembangkan diri tiada henti. Diatas gunung ada gunung.
Bahkan sekalipun Anda seorang yang percaya diri, bisa jadi merasa rendah diri ketika berhadapan dengan orang lain yang tingkatannya lebih tinggi dari Anda. Seorang Manager mungkin merasa lebih superior dihadapan para staffnya. Namun, ketika berhadapan dengan para direktur? Gemetaran juga, bukan? Hal itu bisa diatasi dengan usaha mengembangkan diri secara terus menerus. Faktanya, orang lebih menghormati kemampuan seseorang daripada jabatan yang disandangnya. Meski jabatan Anda tinggi, jika kapasitas aktual Anda tidak sepadan; orang lain akan meremehkan Anda. Tetapi, sekalipun jabatan Anda biasa saja; jika Anda bisa menunjukkan kapasitas diri yang tinggi, orang tetap menghargai Anda.
5. Berkontrisbusi kepada orang lain.
Fakta menunjukkan jika siapapun sangat menyukai orang-orang yang memberi kontribusi. Ketika seseorang mampu berkontribusi, dia langsung dihormati tanpa ditanya; berapa banyak uang yang Anda miliki? Seseorang yang berkontribusi dimuliakan tanpa dipermasalahkan apakah hidungnya mancung atau pesek, apakah dia seorang pejabat atau rakyat. Jika hidup kita masih dirundung rasa rendah diri, itu mungkin karena kita belum berkontribusi. Berkontribusilah kepada orang lain, maka Anda akan dihormati. Kemudian dengan kehormatan yang Anda dapatkan itu, rasa rendah diri akan sirna dengan sendirinya.
Setiap manusia sama kedudukannya. Yang membedakan adalah; apakah dia bisa memberi manfaat atau tidak. Guru kehidupan saya bahkan mengajarkan bahwa: ”sebaik-baik manusia adalah dia yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.” Betapa bangganya kita ketika bisa memberi manfaat. Ini bukan tentang rasa bangga dihadapan sesama manusia, melainkan kebanggaan dihadapan Tuhan. Karena dengan manfaat yang kita tebarkan, kita ikut menunjukkan; betapa Tuhan itu senang menebarkan kebaikan.


Baca selengkapnya

Wednesday, September 19, 2012

JAKARTA

JAKARTA


JAKARTA       Totilawati Tjitrawasita

            Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersen­til. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftar, padahal seingatnya, dia bukan dokter. Sambil memegang buku itu dipandangnya penjaga itu dengan hati-hati, kemudian pelan dia bertanya, “Semua harus mengisi buku ini? Sekalipun saudara atau ayahnya, umpamanya?”
            Yang ditanya hanya mengangguk, menyodorkan bolpoin. “Silakan tulis: nama, alamat, dan keperluan,” katanya.
            Tiba-tiba timbul keinginannya untuk berolok-olok. Sambil menahan ketawa ditulisnya di situ: nama: Soeharto (bukan Presiden). Keperluan: urusan keluarga.
            “Cukup?” katanya sambil menunjukkan apa yang ditulisnya kepada penjaga. “Lelucon, lelucon”. Katanya berulang-ulang sambil menepuk-nepuk punggung penjaga yang terlon­gok-longok heran.
            “Dia tahu, siapa saya” ujarnya menjelaskan.
            “Tanda tangannya belum, Tuan. Dan alamatnya?”
            Betul juga, ada gunanya juga menjelaskan identitasnya agar tuan rumah tahu dan memberikan sambutan yang hangat atas kedatangannya. Maka ditulisnya di bawah tanda tan­gannya, lengkap: Waluyo ANOTOBOTO. Nama keluarganya sengaja dibikin kapital semua, diberi garis tebal di bawahnya. Sekali lagi dia tersenyum, rasa bangga terukir di wajahnya.
            “Begini?” tanyanya seperti meminta pertimbangan penja­ga.
            Terbayang adik misannya tergopoh-gopoh membuka pintu, lalu menyerbunya dengan segala rasa rindu, sambil melem­par macam-macam pertanyaan kepadanya, “Bagaimana Embok, Bapak? Tinah, anaknya sudah berapa?” Kemudian dilihatnya diri sendiri menepuki punggung adiknya dan dengan suara dan gaya orang tua dia bilang, “Sehat. Semua sehat. Dan mereka kirim salam rindu kepadamu.”
            Ketika pintu berderit ia tersentak dari lamunannya, dan di saat berdiri hendak menyambut adik misannya, ternyata yang keluar bukan dia … tapi si penjaga.
            “Bagaimana?” tanyanya tak sabar.
            “Duduklah Tuan, duduk saja. Pak Jenderal sedang ada tamu. Tapi saya lihat Pak Jenderal heran melihat nama Bapak di situ.”
            Mendengar itu dia tersenyum, lalu duduk kembali di kursi. Ditepuk-tepuknya debu yang melekat di celananya, lantas diambilnya slepi dari sakunya.
            “Boleh merokok”” tanyanya minta izin.
            “Silakan, silakan,” kata si penjaga dengan ramah. Sikap tamu itu memang merapatkan rasa persaudaraan. Ditawarkan­nya rokok ke ujung hidung si penjaga,
            “Mau? Silakan lho!” yang dijawab dengan gelengan kepala dan goyangan tangan oleh si penjaga.
            “Baiklah, tapi jangan panggil saya Tuan, ah. Saya bukan Tuan. Orang awam, sama seperti Saudara. Nama saya Waluyo. Orang-orang memanggilku ‘Pak Pong’. Lihat saja nanti, Pak Jenderalmu pasti memanggil aku dengan  ‘Pak Pong’, ‘Pak Pong’ terlalu banyak makan singkong, kalau rakus dikasih teletong. Ooh, sejak kecil kami memang suka berolok-olok.” Dia tertawa lebar, terkenang masa kecilnya, ber­canda di atas punggung kerbau. Si penjaga sempat menca­tat: gigi tamunya ompong semua.
            “Tuan, Eh Pak Pong, petani?” ujarnya ragu-ragu, takut kalau menyinggung perasaan.
            “Petani? Apa potongan saya petani? Bukan! Tapi waktu remaja memang kami suka pencak silat. Rupanya meninggal­kan bekas juga, pada potongan tubuhku. Atau karena baju model cina ini ya? Saya, guru SD di Desa Nggesi. Sekolah ini telah menghasilkan orang-orang besar. Murid saya yang pertama sekolah sudah Kapten, ada juga yang insinyur. Dan Pak Jenderalmu, murid yang paling jempolan. Otaknya tajam se­kali,” katanya sambil mengacungkan ibu jari ke atas, memuji kepandaian adik misannya.
            Bel yang mendadak menjerit tiga kali menghentikan dongengnya. Tampak olehnya penjaga itu berdiri dengan tergesa-gesa sambil berkata, “Tunggu sebentar, mungkin Bapak sudah diperlukan.”
Dia melongo, “Diperlukan?” Diperlukan?” ujarnya di dalam hati, tidak mengerti. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, asapnya ditiupkan ke atas. Terbayang kembali di depan matanya Paijo yang kurus kering, makan satu meja, tidur sepembaringan, adik misannya sendiri. Pernah ada bisul di pantatnya, lantas ditumbukkan daun kecubung untuk obat. Waktu tubuh yang kering itu disergap kudis, dia bersepeda sepanjang limapuluh kilometer untuk beli obat ke kota buat adiknya itu. Pagi dan sore menggerus belerang, merebus air dan merendam Paijo pada kemaron yang besar. Tiga puluh lima tahun yang lalu, itu, ketika semua masih anak-anak.
            “Pak Pong mau minum apa?” Seperti tadi, si penjaga nyelonong duduk dan menegurnya, membubarkan angan-angan masa silamnya. “Pak Jenderal bilang saya harus menemani Bapak, sebab Pak Jenderal lagi sibuk. Sebentar lagi ada tamu istimewa, Pak Menteri. Minumnya apa, Pak? Juice? Coca Cola?”
            “Apa saja, boleh. Kopi kalau ada,” ujarnya merendah.
            “Aih, Jakarta panas, kenapa kopi? Tapi apa Bapak Sauda­ranya Pak Jenderal?” ujar penjaga sambil menyorongkan cangkir ke depan tamunya.
            “Ya, kakak sepupu. Sejak kecil dia yatim piatu. Ibu bapaknya meninggal kena wabah kolera. Dia dua saudara, adik perempuannya bernama Tinah. Lantas keduanya diambil oleh orangtua kami, dibesarkan dalam kandang yang sama, di Nggesi. Kami memang keluarga petani, tapi dia agak lain, otaknya luar biasa. Sejak kecil dia sudah menunjukkan bakatnya, selalu saja dibuatnya hal-hal yang mengagum­kan. Karenanya kami semua bersepakat untuk mengirimnya ke kota, sekolah. Waktu itu kami menjual sapi dan padi untuk ongkos-ongkosnya. Lantas saya waktu sudah jadi guru, saya kirimkan seluruh gaji untuk biayanya, sebab di desa kami kan bisa makan apa saja …. Ooh, apa itu Pak Menteri?” tiba-tiba dia menghentikan ceritanya, menunjuk ke jalan.
            Seperti disengat lebah, penjaga yang di dekatnya melon­cat bangun, setengah berlari menyambut tamu yang baru datang dan bergemetaran ketika membukakan pintu mobilnya.
            “Langsung saja, Pak,” kata si penjaga sambil mengantar Pak Menteri ke ruang tamu di dalam.
            Dia duduk saja di situ, tercenung-cenung. Dicatatnya kejadian itu dalam hati: tamunya Paijo, Menteri; langsung bertemu tanpa menunggu. Lantas dihitung-hitung sudah berapa tahun mereka tidak saling ketemu. Apa Paijo juga gemuk seperti Menteri itu? Tiba-tiba semacam kerinduan naik mencekam naik ke dadanya: Dia ingin melihat adiknya! Serasa hendak diterjangnya tembok yang ada di hadapannya. Karena gelisah dia berdiri, berjalan ke arah pintu.
            Ketika tangannya menyentuh grendel, pintu terdorong dari dalam. Dan seseorang muncul di depannya: si penjaga! Dengan tertawa terkekeh-kekeh ditepuk-tepuknya bahu Pak Pong yang tua.
            “Kabar baik, Pak, kabar baik. Mereka berdua wajahnya cerah-cerah. Menteri itu banyak duit, alamat saya keba­gian rejeki. Oo, jadi Pak Pong ini kakak misan Pak Jen­deral, ya? Betul mirip memang, dan Pak Jenderal selalu bangga pada keluarganya. Dalam pidato-pidatonya selalu disebut-sebutnya: anak desa, penderitaan rakyat, dan perjuangan melawan Belanda,” kata penjaga itu mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah diucapkan oleh Jenderalnya, kepada tamunya.
            “Ya, betul. Rumah kami pernah dijadikan markas, waktu zaman gerilya. Masih lama ya, Pak Menteri itu?” katanya tak sabar lagi.
            “Tidak! asal Bapak Jenderal mau teken, biasanya urusan selesai. Minumnya ditambah lagi ya, Pak?”
            Dia menggeleng lesu, dalam hati diumpatnya Menteri dan tamu-tamu yang antri di situ, merebut waktu adiknya.
            Karena badan dan pikirannya terlalu capek, dia mengan­tuk di situ. Si penjaga tidak mengganggunya, dibiarkan saja tamunya tersandar lemas di kursinya. Entah berapa lama dia dalam keadaan semacam itu, dia sendiri tak menyadarinya; tiba-tiba didengarnya kembali bel tiga kali. Si penjaga menggoncang-goncang bahunya.
            “Giliran untuk Pak Pong. Mari, saya antarkan ….” Ada keramahan yang tulus terlempar dari mulut si penjaga. Bibirnya menyunggingkan senyum, ikut merasa bahagia. Waktu pintu ternganga lebar, dia tercenung di depannya. Matanya bergerak ke sana ke mari menatapi apa saja yang dilihatnya. Ruangan itu bagus sekali. Hawa dingin menyen­tuh kulitnya. Ada kesegaran di dalamnya. Di tengah-tengah barang-barang yang serba megah, duduk laki-laki jangkung, memakai kecamata hitam. Betulkah itu Paijo?
            Ya, dia tidak salah: ada tahi lalat di pipinya. Maka dia pun menyerbu ke dalam, lalu dihamburkan kerinduannya, “ … Jo …,” teriaknya nyaring. Ketika hendak dirang­kulnya laki-laki yang duduk di belakang meja, dia menda­dak menghentikan langkahnya, sebab laki-laki itu bukannya berdiri tetapi tetap saja duduk di kursi. Laki-laki jangkung itu melepaskan kecamatanya pelan-pelan, lalu mengulurkan tangannya.
            “Hallo, Pak Pong, apa kabar? Saya senang bertemu kakak di sini? Bagaimana Ibu, Bapak dan Dik Tinah?”, ujarnya, datar tanpa emosi.
            Laki-laki yang bernama Pak Pong itu hanya melompong.
            “Kakak, Ibu, Dik Tinah?” dia sempat mencatat kata-kata baru. “Bukankah kata-kata itu dulu berbunyi, “Kakang, simbok, dan gendukku Tinah?”
            “Baik, baik, Dik, semuanya kirim salam rindu padamu,” katanya dengan latah, “dik”nya terasa kaku di lidah. Dulu, orang yang ada di depannya itu dipanggilnya dengan le saja, ketika masih sama-sama memandikan kerbau di sungai, tiap sore.
            “Kakak tetap saja: penggembira, awet muda, bajunya potongan Cina.” Mereka tertawa berderai-derai. Tapi laki-laki yang bernama Pak Pong menangkap sesuatu yang lain dari wajah adiknya: ketidakwajaran.
            Maka hilanglah kegembiraannya. Kerinduan yang hendak dia tuangkan dalam banyak cerita, berhenti sampai di tenggorokannya. Dia tenggelam dalam keasingan. Terentang batas di depannya. Sekalipun tidak diketahuinya bagaimana wujudnya, tapi dia dapat merasakannya. Pada setiap tari­kan napas adiknya terbayang ungkapan kegelisahan adik misannya itu, akan kehadirannya.
“Kakak nginap di mana?” tanya laki-laki yang sejak kecil dia timang-timang itu, mengiris hatinya.
“Gambir. Engkau sibuk, Dik? Ada titipan dari Ibu, “ kata-katanya menggeletar, ada rasa penasaran yang dite­kannya sendiri di dalamnya. Didengarnya sendiri, betapa lucunya kata ‘ibu’ terluncur dari mulutnya. Lebih dari setengah abad dunia ini dihuninya, baru satu kali itu dalam hidupnya ia menyebut ibu buat emboknya.
            “Dari Ibu? Baiklah, nanti saja; sebentar lagi saya harus rapat di Bina Graha. Kakak nginap di Gambir? Kalau begitu, biarlah penjaga mengantarkan kakak ke sana. Nanti malam Kakak saya tunggu, makan malam di rumah bersama keluarga.”
            Laki-laki itu berdiri, mengantarkan kakaknya sampai di pintu, memanggil serta memberikan aba-aba pada sopir dan si penjaga. Sesudah itu mobil merah punya Pak Jenderal meluncur melintasi kota, cepat seperti kilat.
            “Gambir sebelah mana, Pak?” ujar sopir di perjalanan.
            “Stasiun!” jawabnya tenang.
            “Stasiun? Kiri apa kanannya, Pak?” tanya si penjaga, ingin lebih jelas.
            “Tidak, di stasiunnya itulah. Jam berapa kereta mening­galkan Jakarta? Saya tidak punya famili di sini, kecuali dia. Kasihan adikku, repot sekali kelihatannya. Tentu di rumahnya banyak tamu, sehingga saya tidak kebagian ruang dan waktu. Kasihan adikku, seharusnya saya tidak meng­ganggunya,” ujarnya tulus, tanpa prasangka, pelan seperti bicara kepada dirinya sendiri.
            “Pak Pong …”, sapa penjaga itu dengan lirih. “Kalau Pak Pong mau, biarlah kita bersempit-sempit di gubuk saya. Kereta meninggalkan Jakarta baru besok pagi, jam lima. Ada yang jalan sore, tapi karcisnya sepuluh ribu.”
            Laki-laki yang dipanggil Pak Pong mengulurkan kedua belah tangannya. Mereka bersalaman dengan hangat, ditem­pelkan di dada, bersilaturahmi.
            “Alhamdulillah. Kamu tidak keberatan, menerima aku satu malam saja?”
Penjaga itu menggeleng lemah, tanpa berbicara. Hanya saja mata yang menatap sedih pada orang yang duduk di dekatnya itu.
            Malam itu, Pak Pong berjalan kaki, keliling kota Jakarta, di temani si penjaga. Kejadian siang tadi sama sekali tidak membekas pada wajahnya, mukanya tetap berseri-seri. Diterimanya kenyataan itu sebagai hal wajar: adiknya orang besar, sibuk dan banyak acara, mengurus negara. Setiap kali melihat mobil merah lewat di dekatnya, tanya­nya, “Bukankah itu mobil Paijo? Jangan-jangan dia menjem­put aku? Kami memang sudah berjanji, jam tujuh, makan malam.”
            Si penjaga menepuk-nepuk bahunya, “Mobil merah ratusan, Pak, jumlahnya di sini. Dan malam ini Pak Jenderal ada di istana, menyambut tamu dari luar negeri.”
            “Istana? Rumahnya Presiden, maksudmu?” matanya terbeli­ak lebar, mengungkapkan keheranan yang besar.
            “Ya, rumah Presiden. Nah itu, lampu-lampu yang gemerla­pan itu night club. Tahu night club?” tiba-tiba saja si penjaga merasa berarti, lebih pandai daripada tamunya, kakak sepupu Jenderalnya.
            “Night club,  Pak, pusat kehidupan malam di kota ini. Tempat  orang-orang kaya membuang duit mereka. Lampunya lima watt, remang-remang; perempuan-perempuan cantik, minuman keras, tari telanjang, dan musik yang gila-gilaan. Pendeknya, yahut!” ujar penjaga sambil mengacung­kan jempolnya.
            “Lantas, apa yang mereka bikin, di situ?” suaranya tercekik membayangkan ketakutan yang besar.
            “Berdansa. Bercumbu. Biasa, Pak, Jakarta!” jawab si penjaga dengan ringan.
            “Astaga … Gusti Pangeran, nyuwun pangapura…. Dan adikku apa sering ke situ?” ujarnya lirih, mengandung sedu.
            “Tidak ke situ, ke Paprika. Tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu!”
            “Enam ribu? Sama dengan dua bulan gajiku,” keluhnya pelahan.
Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk mata­nya, sedangkan kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia telah kehilangan adik­nya: Paijo tercinta!
            Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di dalam hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung-gedung itu, Istana Merdeka, night club, mobil merah telah memisahkan dia dari adiknya.
            Ditatapnya bungkusan kecil titipan emboknya, lalu diberikannya kepada si penjaga, “Untukmu. Kain yang dibatik oleh tangan orang tuaku. Di dalamnya terukir cinta ibu kepada anaknya. Coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan!”
            Dua tetes air mata membasahi pipi yang tua, menandai kejadian waktu itu.


Dikutip dari Hoerip, Satyagraha. 1979. Cerita Pendek Indonesia 4. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Halaman 192–198.

Baca selengkapnya